Pagi didanau indah itu, aku melihat sosok yang begitu akrab dalam ingatan. Didanau indah itu aku melihatnya dengan sebuah mimpi tuk dapat berucap dan bertanya padanya. Ia nampak membawa goresan luka, terpancar dari sosoknya yang dingin, dan pilu. Juga kosong. Aku ingin menghampirinya. Bertanya banyak hal. Tentang sebuah botol kecil yang berisi gulungan kertas yang slalu ia bawa. Namun diri ini serasa ada dinding yang membatasi. Seolah ia punya perisai yang menghalangi siapapun tuk mendekatinya.
Aku hanya menyimpan rasa penasaranku. Pergi. Dan melangkah tuk kembali kedalam rutinitasku. Melangkah dengan penuh tanda tanya. Hingga aku kembali pada titik dimana sosok itu berdiri. Senja. Mentari membelakangi sinarnya. Hanya tampak warna jingga kemerahan. Begitu menyilaukan mata. Aku berdiri ditepian. Tampak sebuah botol mengapung. Botol yang tak asing bagiku. Segera kubuka dan ku lepaskan pita yang mengikat secarik kertas didalamnya.
"Aku tak mengharap perpisahan itu terjadi.
Kenapa aku harus kehilangan sosokmu yang begitu meneduhkanku.
Andai aku tau smua akan berakhir sperti ini,
aku tak akan membiarkannya terjadi.
Aku akan menggantikan rasa sakit yang kau rasakan.
Aku sangat menyayangimu, Naura.
Rasanya ingin ku akhiri smua.
Pergi dengan bebas menyusulmu.
Merasakan kebersamaan kita yang saat ini bgitu kurindu.
Tapi stiap aku mencoba melakukan itu, hasilnya nihil.
Tuhan belum mengijinkan aku dekat denganmu.
Aku bodoh, Naura.
Aku tidak memenuhi janjiku.
Janji tuk terus berjuang dalam hidup.
Aku bodoh.
Andai aku tau rasanya sesakit ini ketika kehilanganmu,
aku tidak akan mengucap janji itu dahulu.
Kini aku hanya menjalani hidup dengan sisa-sisa semangatku.
Semangat yang dulu kau gelorakan dalam tiap detik waktuku.
Naura, Aku tau, pasti disana kau sedang tersenyum.
Melihatku yang kini bangkit.
Tak selemah 1 tahun lalu smenjak kepergianmu.
Aku kan menuruti janjiku, janji tuk kuat dan setia.
Aku tetap mencintaimu walau kau tak disisiku skarang.
Bagiku kan tetap hidup. Disini. Didanau cinta kita.
Walau ku tak dapat mendekapmu lagi.
Walau ku tak dapat mendengar celotehanmu lagi.
Tapi aku kan slalu mengingat senyuman mu yg begitu manis.
Senyum yang tak pernah akan kujumpai lagi oleh siapapun.
Selain yang tersungging dari bibirmu, Naura.
Aku, yang menyayangimu sampai jantung ini berhenti berdetak, Andro."
Begitulah yang tertulis dalam secarik kertas ..
Aku tak bisa menitihkan air mata, spertinya kesedihan ini sudah melewati batas. Aku ingin berlari dan mengejarnya, memeluknnya melewati perisai yang slama ini membatasiku pada dunianya dan mengatakan "Andro, aku juga sangat menyayangimu". Aku yakin keabadian itu ada. Suatu saat nanti aku dan Andro pasti akan berada dalam keabadian cinta.
17 September 2012
By Nuendut
Aku hanya menyimpan rasa penasaranku. Pergi. Dan melangkah tuk kembali kedalam rutinitasku. Melangkah dengan penuh tanda tanya. Hingga aku kembali pada titik dimana sosok itu berdiri. Senja. Mentari membelakangi sinarnya. Hanya tampak warna jingga kemerahan. Begitu menyilaukan mata. Aku berdiri ditepian. Tampak sebuah botol mengapung. Botol yang tak asing bagiku. Segera kubuka dan ku lepaskan pita yang mengikat secarik kertas didalamnya.
"Aku tak mengharap perpisahan itu terjadi.
Kenapa aku harus kehilangan sosokmu yang begitu meneduhkanku.
Andai aku tau smua akan berakhir sperti ini,
aku tak akan membiarkannya terjadi.
Aku akan menggantikan rasa sakit yang kau rasakan.
Aku sangat menyayangimu, Naura.
Rasanya ingin ku akhiri smua.
Pergi dengan bebas menyusulmu.
Merasakan kebersamaan kita yang saat ini bgitu kurindu.
Tapi stiap aku mencoba melakukan itu, hasilnya nihil.
Tuhan belum mengijinkan aku dekat denganmu.
Aku bodoh, Naura.
Aku tidak memenuhi janjiku.
Janji tuk terus berjuang dalam hidup.
Aku bodoh.
Andai aku tau rasanya sesakit ini ketika kehilanganmu,
aku tidak akan mengucap janji itu dahulu.
Kini aku hanya menjalani hidup dengan sisa-sisa semangatku.
Semangat yang dulu kau gelorakan dalam tiap detik waktuku.
Naura, Aku tau, pasti disana kau sedang tersenyum.
Melihatku yang kini bangkit.
Tak selemah 1 tahun lalu smenjak kepergianmu.
Aku kan menuruti janjiku, janji tuk kuat dan setia.
Aku tetap mencintaimu walau kau tak disisiku skarang.
Bagiku kan tetap hidup. Disini. Didanau cinta kita.
Walau ku tak dapat mendekapmu lagi.
Walau ku tak dapat mendengar celotehanmu lagi.
Tapi aku kan slalu mengingat senyuman mu yg begitu manis.
Senyum yang tak pernah akan kujumpai lagi oleh siapapun.
Selain yang tersungging dari bibirmu, Naura.
Aku, yang menyayangimu sampai jantung ini berhenti berdetak, Andro."
Begitulah yang tertulis dalam secarik kertas ..
Aku tak bisa menitihkan air mata, spertinya kesedihan ini sudah melewati batas. Aku ingin berlari dan mengejarnya, memeluknnya melewati perisai yang slama ini membatasiku pada dunianya dan mengatakan "Andro, aku juga sangat menyayangimu". Aku yakin keabadian itu ada. Suatu saat nanti aku dan Andro pasti akan berada dalam keabadian cinta.
17 September 2012
By Nuendut
Komentar
Posting Komentar