Siap mencintai, harus siap pula untuk tersakiti. Kata-kata ini pasti sering kita dengar. Entah di sinetron, film, ftv, novel ataupun dimanapun yang berhubungan dengan cinta. Itu ibaratnya adalah sebuah konsekuensi. Karena mencintai dan menyakiti itu sebenarnya amat dekat. Bersebelahan. Dan jika kau salah memposisikannya kau akan berada dipihak yang dibilang ‘menyakiti’ itu tadi. Lain lagi kisahnya, dulu aku pernah mendengar seseorang mengatakan padaku “Berani mencintai namun takut untuk dicintai”. Jujur aku tidak mengerti maksudnya. Aku bertanya pada seseorang itu, apa maksud dari kata-kata itu. Bagaimana mungkin ada seseorang yang takut untuk dicintai sementara dia sendiri berani mencintai?. Dia menjelaskan padaku mengenai satu hal. Bahwa mencintai itu tidak selamanya berbalas dicintai. Hal yang ia takutkan adalah dicintai ketika ia belum layak untuk dicintai. Belum layak dan bahkan belum siap untuk sesuatu yang lebih jauh lagi. Aku bertanya lagi layaknya gadis kecil yang minta dia...
Untuk cahaya senja yang merona jingga diujung pergantian hari, mata ini cukup menjadi saksi betapa besarnya kuasa Illahi..