Langsung ke konten utama

Kisah Cumi-Cumi dan Ubur-Ubur

Cattleya, 10 November 2013
Entah takjub, bahagia, haru dan berbagai macam rasa yang berkecamuk di hati Naurah saat ini, saat ia dihadapkan dengan padang rumput yang begitu luas membentang warna hijaunya, Terdapat bunga-bunga ditengahnya, terdapat danau yang tenang dibawahnya. Sungguh ini adalah kali pertama ia menatap sekelilingnya dengan perasaan aneh. Berdebar gembira. Ya mungkin ketika orang mendeskripsikan dengan kata “Jatuh Cinta” ia akan langsung ternganga pada sekitarnya.
“Hah? Jatuh Cinta”

Sosok malaikat macam apa yang kini membawanya ketempat indah itu? Ya Tuhan, Ternyata Fadhil. Sungguh ia benar-benar seperti namanya. Dialah keutamaan yang kini memenuhi ruang hatiku. “Sungguh, jika ini betul-betul rasa cinta. Jatuhkanlah aku pada orang yang tepat, Tuhan” Gumam Naurah dalam hati.
“Sini aku foto-in” Tawar Fadhil sambil bersiap membidik dengan Hp-nya.
“Ahh, nggak ah, lagi males” Aku menutup wajah yang tak sanggup menahan rasa malu. Entah sudah berwarna apa wajahku saat ini. Mungkin pink seperti kerudung yang aku kenakan.
“Diih, bagus itu ada bunganya. Kamu kan suka bunga. Buruan aku fotoin” paksa Fadhil sambil menunjuk spot yang dipenuhi bunga.
“Iya, ntar aja, aku masih mau menikmati semilir angin disini” Jawabku sambil memandang lurus kedepan.
“hmm, Yasudah.. Sayang sekali lho, padahal kan pemandangannya bagus” Fadhil masih terus berusaha. Sampai akhirnya ia merebahkan badannya diatas rerumputan itu. Diatas Bukit kecil yang sedang kami singgahi.

Ya Tuhan, dia terpejam. Mungkin dia lelah sudah seharian ini mengantarkanku kesana kemari. Aku hanya tersenyum getir melihatnya terpejam dengan tenangnya. Menutup setengah wajahnya dengan saputangan kesayangan yang slalu ia bawa. “Buuuuurr” Panggilku pelan, dan sperti yang sudah ku duga, ia akan menyingkirkan saputangannya, dengan sigap aku langsung mengambil fotonya yang terbangun dengan mata sipit 
“hahahaha.. Kena deh” aku tertawa melihat hasil fotoku.
“ah jaiiill..” Ia bergegas bangun dari posisi nyamannya dan mencoba merebut Hp dari genggamanku. “siniin hapenya.. Apus cum!! Pasti jelek” Fadhil memerintahkanku.
“nggak kok, Bagus tau” aku berbalik badan menjaga Hp ku dari serangannya.
“siniiin” Fadhil bergegas merebutnya dengan terus mendekatkan tangannya.
“hahaha” Aku hanya bisa tertawa meledek wajahnya yang kini memerah seperti udang rebus. Kemudian kami berdua asyik berebut Hp. Aku menikmati moment ini. Tertawa lepas bersamamu, Ubur-uburku.

“Bur kamu udah sering kesini?” Tanyaku sambil membenarkan posisi duduk.
“Belum pernah, baru hari ini sama kamu” Jawabnya jujur “Cum, ksana yuk.. masa disini-sini aja. Noh disana kan banyak bunga. Aku fotoin deh” Pinta fadhil mencoba merayuku supaya Hp-nya bisa dia ambil dan dia hapus foto tidurnya dengan mudah. Tapi anak kecil ini ngga dengan mudah nya kasih Hp-nya gitu aja.
“Ayuk, tapi fotoin pake hape kamu ya :P” Pintaku sambil nyengir seperti bocah tanpa dosa
“Iya, iyaaa..” Jawabnya singkat
“Hap !!” Aku mencoba bangun dan beranjak dari posisi nyamanku dan melangkahkan kaki menuju sekumpulan bunga didepan sana.

Kami berjalan tidak beriringan. Aku selalu mengikutinya dibelakang. Memperhatikan setiap gerak-gerik dan langkahnya. Sesekali ia memintaku disampingnya dengan menarik tas ranselku sperti menarik seekor kelinci . Ini bukan mimpi kan ? Aku berada ditempat seindah ini bersama sosok pria berkemeja abu-abu ini.. Sepertinya mimpi ku pun takkan seindah ini. Terima kasih Tuhan untuk perasaan yang begitu damai ini.
“Nah, disini.. Coba kamu disana!” Bak fotografer handal, ia menyuruhku berdiri di depan pohon yang agak rindang. Disini memang indah, taman ditengah kota. Banyak dijadikan tempat santai dan take photo untuk para model-model dan fotografer amatir. Seperti yang terlihat disetiap sudutnya, aku sudah menjumpai 3 grup fotografer yang hilir-mudik mengambil gambar. Aku dengan gaya yang pas-pasan bahkan terkesan kaku bergaya dengan selalu mengacungkan dua jari. *gaya andalah*
“Bur, gantian sini aku fotoin” Pintaku
“Ngga usah, kamu aja” Elaknya. Aku selalu menuruti apapun perkataannya. Bagiku dia itu sosok kakak, sosok teman, sosok sahabat, dan sosok.. ah sudahlah.. Cuma hati ini yang mengetahuinya.
“Bagus yaa” Gumamku sendiri. Aku belum pernah ketaman seidah ini dijakarta. Dipusat kota. Mungkin orang disebelahku yang membuatnya menjadi lebih istimewa. Mungkin rasa ini yang membuatnya lebih indah. Mungkin

Kami berdua jalan menuju bagian taman yang lebih banyak bunganya. Saat menuruni anak tangga, untuk kali pertama ia memegang tanganku. Menuntunku. Setelah sekian lama kami mengenal, baru kali ini ia memegang tanganku. Tersadar beberapa saat kami saling menggenggam, ia melepaskannya. Kami sama-sama canggung dan tersipu. Kalau ini FTV, mungkin sudah ada efek angin yang terlintas.
“Nah disini bagus nih.. Foto disini cum” Pintanya..
“Eh iya, masa dari tadi aku? Sini gantian” Aku mengelak. Sudah berapa banyak fotoku dimemorinya.
“Engga usah” Jawabnya bijak
“Yaudah kalo gitu foto berdua” Jawabku
“Gimana caranya ?” fadhil meragu
“Tenang, aku bisa kok. Udah ahli” Sombongku. Kami berdua lantas berfoto dalam satu frame. Sungguh manis dilihat. Senyumku mengembang disana. “Bur kamu ngga ada senyumnya. Senyum dikit donk!” Pintaku. Ia hanya menurut. Beberapa foto ini lucu. Entah mengapa membuatku senyum-senyum sendiri menatapnya. “Nanti kirimin yaa” Ujarku
“Siap boss! Kamu tunggu bentar yaa. Aku mau ksana dulu” Tiba-tiba Fadhil bangun dari duduknya
“Ngapain?” Heranku
“Tanpa menjawab pertanyaanku, ia melangkah pergi” Sepertinya ia berjalan menuju penjaja minuman diseberang sana.
Aku memadang sekelilingku dan teringat akan suatu hal. Kemudian aku mengeluarkan benda kecil berwarna orange dan pink dari dalam ranselku. Yak, gantungan imut berbentuk jerapah ini dibelikan oleh Fadhil tadi siang. Kalau memandang gantungan ini, teduh skali. Centil-centil gimana gitu. Hihi. Aku memoto gantungan itu di sela dedaunan. Seolah jerapah itu kembali ke habitatnya.
“Ngapain cum?” Fadhil datang dengan membawa sebotol air dingin dan menyodorkan kepadaku.
“Ini loh, bur, aku mau foto jerapah ini kok fokusnya nggak dapet yaa” Ujarku sambil menyambut minuman dari tangannya.
“Coba sini” Ia mengotak atik Hp-ku selama aku menenggak minuman itu. Kemudian ia membidik beberapa foto dengan asyiknya.. “Lumayan kan yg ini ?” sambil menunjukkan hasil bidikannya ke arahku.
“Iya, tuh bisa fokus” Aku kembali menenggak minumanku. “Bur, udah sore.. kamu juga belum sholat ashar kan?”
“Iya, mau sholat dirumah ku apa dimasjid yg waktu itu?” Ujarnya
“Dimasjid yang waktu itu aja” Jawabku tanpa pikir panjang.  Kemudian kami meninggalkan tempat indah ini.

Kak Fadhil adalah sosok yang membuatku kembali berpetualang. Mengenalnya adalah suatu pembelajaran dan petualangan baru. Bagiku, dia adalah anugerah yang tuhan kirimkan disaat aku bertanya adakah cinta sejati yang benar-benar tulus di dunia ini? Ya, Bagiku dia adalah senyuman penghapus tangis masa laluku. Dia adalah semangat yang dihadirkan Tuhan dan menjelma menjadi sosok yang begitu indah dan ajaib ini. Dia yang mengajarkanku kuat dengan cara-cara penyampaiannya yang begitu manis didengar.
“Maaf ya, gara-gara do’a aku dulu kamu jadi putus” Ucapnya tiba-tiba ketika diperjalanan dan membuat aku tertegun.
“eh? Kok gitu ngomongnya?” Kagetku.
“Iya, dulu kalo ngeliat kamu suka ngedo’ain gitu.. Supaya cepet putus. Maaf yaa” Ujarnya polos

“Dasar” Aku menganggapnya sebagai candaan kecil khas kak Fadhil. Sebelumnya memang ia selalu bercanda dan mengenai hal-hal lucu di kampus. Saat dimana ia memperhatikanku dan aku tak pernah menggubrisnya. Katanya sih dulu itu dia suka memperhatikanku saat aku selalu tertawa dikoridor kampus bersama teman-temanku. Jujur, aku tidak pernah mengenalnya sebelumnya. Aku baru memperhatikannya belakangan ini, saat galau dan dia selalu me retweet twit ku. Dari situ aku mulai stalker-in dia. Dan ternyata dia satu kampus denganku. Dulu aku belum terlalu menggubrisnya. Ya, mungkin karena perasaan yang masih belum pulih dari luka. Mungkin.

Sampai akhirnya aku nyaman dengan perdebatan kita. Nyaman dengan keadaan dimana kita saling merindukan walau belum pernah ada pertemuan. Saat dimana ia hadir dengan kejutan-kejuatan dan sapaan manisnya tiap pagi dan malam. Ia begitu intens menbuat aku terbiasa hidup dengan perhatiannya.

Saat aku menjadi bagian yang ia favoritkan.. Itu sungguh .. Apa yah ? Apakah ini yang namanya cinta? Terakhir aku merasakan cinta adalah ketika 5 bulan lalu rasa tulusku dinodai oleh pengkhianatan dari seseorang. Apakah ini yang namanya cinta?
Selama 4 bulan kami hanya berkomunikasi lewat dunia maya. Saling bertanya kabar dan menyapa melalui apapun jejaring social yang kami miliki. Dan dia adalah alasan insom ini kambuh lagi. Kalau sedang curhat bersama Kak Fadhil itu rasanya waktu tak terasa perputarannya. Mengobrolkan banyak hal. Pengalaman hidup. Perjuangan dan kisah-kisah lucu. Diselingi candaan-candaan nyeleneh khas seorang Ubur-ubur.

Oiya, ubur-ubur adalah panggilan sayangku untuknya. Dan cumi-cumi adalah panggilan sayangnya untukku. Setelah perjumpaan lewat begitu banyak khayalan, akhirnya kami dipertemukan di 26 Oktober 2013. Pertemuan yang lucu, menggelitik dan amat berkesan bagiku. Sebelumnya aku berkumpul bersama teman-temanku. Pertemuan kami di suatu Masjid. Masjid Al-Madinah namanya.. Disanalah bulir-bulir kekagumanku bertambah. Kami tidak berdua. Kami bertemu berlima dengan teman-temanku. Ya, selepas menjalankan ibadah sholat magrib dimasjid ini, kami memutuskan untuk makan malam di angkringan nasi kucing didaerah tersebut.

Aku tak banyak bicara padanya. Aku hanya terdiam. Entah kenapa teman-teman ku yang begitu aktif menjejalinya dengan pertanyaan pertanyaan nyeleneh. Ah, teman-temanku ini sudah kuanggap sebagai keluargaku. Dan sepertinya kak Fadhil paham bagaimana ia harus bersikap. Bagiku ia layaknya laki-laki yang bertanggung jawab dan berani. Terlihat dari caranya bertanya dan memperlakukanku.

Sungguh, jika malam itu bisa kembali terulang aku ingin mengulanginya lagi.
Sampai akhirnya pukul 9 kami smua harus kembali pulang. Ia mengantarkanku pulang. Untuk pertama kalinya ia berkunjung ke rumahku yang sangat sederhana sekali.. Obrolan-obrolan singkat dari mama dan pertanyaan-pertanyaan layaknya orang baru pertama kenal pun terlontar. Sambutan hangat dari mama.

Mengenalmu membuat sabtu-minggu ku lebih berwarna. Ini adalah malam minggu pertamaku keluar setelah kejadian 5 bulan lalu. Setelah aku bgitu mengurung diri dan berlarut-larut dalam kegalauan. Esoknya kak Fadhil mengajakku menonton film. Film yang membuatku termotivasi untuk move on sepertinya. Manusia Setengah Salmon – Karya Raditya Dika. Salah satu penulis, Aktor dan Komedian favoritku. Ia tahu banyak tentang apa yang aku suka. Ia membuatnya seolah aku adalah puteri raja yang harus diberikan ini itu. Sungguh perlakuan yang amat manis yang tidak pernah aku peroleh sebelumnya. Sungguh sikap manismu memperlakukanku itulah yang membuatku kagum. Ya, disini walaupun kita berjalan bersama. Kamu tidak pernah menyentuhku. Sekali lagi kamu menjagaku dan menjaga dirimu sendiri..

Sebelum film itu mulai, kita masih punya banyak waktu untuk berkunjung ke toko buku, bermain di timezone. Ah ini hal yang baru pertama kulalui. Kamu bersemangat sekali mendapatkan boneka pink yang lucu itu. Saat tidak berhasil kamu amat kecewa. Aku nggapapa kok, perjuangan kamu itu yang membuat aku lebih bahagia dari apapun. Saat kita main basket bareng.. Ya Tuhan bisa ngga ya kejadian itu terulang lagi ? Itu benar-benar bahagia.

Minggu depannya Tepat 2 November 2013 aku harus pergi ke Semarang untuk bermain. Dan kau tau ? dia lagi-lagi dengan perjuangannya mengantarkanku ke Stasiun. Sungguh. Itu siang hari, terik, macet dan dia masih membela buat nganter. :’) Aku benar-benar bersyukur mengenal sosok Kak Fadhil ini. Sampai di Stasiun ia menungguku sampa benar-benar memasuki kereta. Kami layaknya pemeran utama di FTV. Saat dimana pengantar dilarang masuk untuk mengantar penumpang, aku hanya mampu melambaikan tangan sambil tersenyum. Entah sepertinya menahan tangis. Kenapa jadi berat seperti ini meninggalkannya?
Ya, aku memang melangkah kedepan. Tapi aku tidak sekalipun memandang kedepan. Aku terus menoleh kebelakang. Sampai akhirnya aku memasuki kereta dan menyuruhnya pulang. Ada yang lebih gila lagi dari ini. Saat kembalinya aku dari Semarang ke Jakarta, ia juga yang menjemputku. Dia juga yang rela tidak tidur dan terjaga agar dapat menjemputku tepat waktu pukul 02.45 dini hari. Sungguh ini manis sekali. Ia dengan Sweater tebalnya tiba-tiba sudah berdiri disampingku saat keluar dari stasiun. Aku begitu canggung saat itu. Jika kamu tau isi hatiku sebenarnya, sedang ada festival kembang api disana. Dengan ribuan warna yang terhampar indah di langit hatiku, dan kembang api itu bertuliskan namamu.

Sungguh perkenalan denganmu tidak pernah membawa sedikitpun aku kedalam kegalauan. Yang ada hanyalah kamu yang selalu membuat aku tersenyum. Entah itu tersenyum karna kekonyolanmu, atau karena sikap manismu. Entah. Jujur, semakin aku mengagumimu, aku justru makin takut. Takut jika nantinya aku akan bersedih. Tapi bukan kah kalau aku siap jatuh cinta, harus siap pula untuk terluka. Aku yakin kamu tidak akan melukai ku dengan cara sperti itu. Yang ku takutkan lebih dalam adalah ketika Tuhan tidak merestui kita untuk menyatu. Ya, itulah yang kutakutkan.

Baru kali ini aku begitu bersemangat menyambut setiap weeked tiba. Sabtu ini giliran aku untuk datang ke kampus mengambil ijazah. Baru kali ini aku bersyukur pernah berkuliah di kampus ini. Karena disinilah aku mengenalmu.. 

Kau tau satu hal? Tidak memperoleh sesuatu yang hampir kita miliki itu lebih menyakitkan dari pada kita jelas-jelas tidak akan memperolehnya dari awal. Ya, kamu adalah sosok yang hampir kumiliki.. Sosok yang nyaris ku genggam.. Tapi ketakutanku menjadi nyata. Kamu tidak menyakitiku. Kamu tidak membuatku menagis. Tapi di detik inipun kamu masih terus menjaga merawat perasaan ini. Ketakutanku akan Tuhan yang tidak mengijinkan kita tuk bersatu pun terjadi. Kamu terlalu indah untuk jadi bagian hidupku, harusnya aku tau, aku hanya seorang manusia biasa dan aku juga harusnya tau bahwa malaikat yang satu ini sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Kini Aku hanya mampu memelukmu dalam do’a. Biarkan aku menunggu dalam pengharapan yang tulus. Seperti katamu, seperti nasehatmu, aku tidak akan menangis. Aku hanyan akan menangis dalam sujudku kepada Illahi. Ya, seperti katamu, aku akan tersenyum dan kembali berajalan. Walau tanpamu.

Terima kasih Tuhan sudah menghadirkan sosok indah seperti kak Fadhil untukku, ini sebagai bahan pembelajaran untukku, mungkin ia terlalu baik untukku. Mungkin aku harus berjuang lebih keras lagi. Berusaha memperbaiki diri. Aku selalu percaya akan Janji-Mu. Bahwa yang baik akan dipertemukan dengan yang baik. Terima Kasih My Jellyfish..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Walimah Sahabat Tercinta

Allah memberikan anugerah kepada kita berupa rasa cinta dan kasih kepada sesama manusia, sudah sepatutnya kita menjalani anugerah itu dengan cara yang Allah cintai pula. Menikah. Walimatul ‘ursy yang syar’i tentulah menjadi dambaan kita semua. Belum lama ini saya punya pengalaman yang luar biasa. Izinkan saya membaginya dengan kalian semua. Seminggu yang lalu, saya dan teman-teman Madrashalihat menjadi panitia di pernikahan Mba Dita dan Mas Aris. Acaranya berlangsung di Masjid Jami Bintaro. Untuk menuju lokasi kita melakukan konvoi dengan mobil dan motor. Dua jam sebelum acara dimulai, yaitu jam 6 pagi kita sudah berkumpul dengan dresscode hijau – ungu. Karena prepare dan koordinasi, alhasil jam 7 pagi kita baru berangkat. Ketika sampai dilokasi, dekorasi nya sudah terpasang dengan tema warna hijau. Akad nikah sudah hampir dimulai, mempelai pria dan keluarga sudah berbaris rapi untuk acara serah terima seserahan. Sedangkan mempelai perempuan ‘disembunyikan’ diruang tertutup d...

Me & Flower

Bunga. Ciptaan Tuhan yang satu ini emang paling mempesona. Kalo lihat sekumpulan bungan itu rasanya tenang, damai, dan merasa jadi bagian dari mereka (statement yg terakhir jangan diambil hati yaa *intermezzo*.. wkwk). Ya, bahkan dalam lukisan pun bunga masih menunjukkan pesonanya. Warnanya, bentuknya, wanginya, semuanya mempesona. Satu bunga yang masih bikin penasaran adalah bunga Edelweis, Bunga Keabadian.. Adanya dipuncak gunung, dan karna ngedapetinnya perlu perjuangan ke puncak gunung, bunga ini jadi salah satu bunga yang special.. Berharap suatu saat bisa hiking dan memetik bunga itu .. :D #hope

Love You, Mom

Kasih sayang seorang ibu itu tiada dapat ditebus dengan apapun. Walaupun kita sudah membahagiakannya pun rasanya masih belum bisa membalas semua jasa-jasanya.. Kadang, khilaf selalu menyelimuti diri kita hingga terlontar kata kata yang harusnya tidak keluar.. Tapi ibu tetap bersabar dan tersenyum, maka tak salah jika menyebut kasih sayangnya sepanjang masa.. Itu benar adanya.. ketika kau sakit, lihatlah ia, ia juga sakit memikirkan kita, anaknya.. ia tak tidur untuk menjaga kita. ketika jatuh ia siap memberikan dekapan dan pelukannya untuk kita.. Ketika tersakiti, ia siap dengan pangkuan hangatnya dan membelai rambut kita.. Ia selalu menasihatimu, memberikan yang terbaik untukmu.. Bahagiakan Ibu kita, maka kita akan bahagia dengan Restunya. :)