Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2014

Dewi Pembawa Kabar Baik

Saat aku terluka ia selalu ada, bahkan ia selalu menyediakan pundaknya untuk aku bersandar dan melepas kesedihan selama beberapa menit. Disaat itu dia diam. Dia membiarkanku berkecamuk dengan rasa sakitku. Ia hanya mengusap lembut kepalaku. Hingga beberapa saat aku makin menjadi-jadi. Aku terus bergulat dengan perasaanku. Rasa bersalah. Aku amat merasa bersalah. Aku begitu menyalahkan diriku sendiri. Kemana aku selama ini ? bahkan ketika dia selalu sigap disampingku untuk meringankan bebanku. Kemana aku selama ini saat dia sendirian dirundung kegalauan. Kemana aku selama ini yang jarang ada disampingnya untuk sekedar membalasnya memberikan pundakku. Menggenggam erat jemarinya yang lemah ketika tak satupun orang mendengarkan pendapatnya. Dimana aku? Argh. Mungkin aku adalah orang yang tak tahu berterima kasih. Atau aku adalah orang yang tidak peka. Aku kembali menjadi sosok diriku yang dulu. Tidak peka. Kenapa ini terjadi. Kenapa aku harus melakukannya pada orang yang telah menyaya...

Mimpiku

Mimpi. Mimpi adalah ketika kita berangan mengenai masa depan. Bukan sekedar mengkhayal, merencanakan, dan tidak berbuat apapun. Tapi juga perjuangan dan langkah unutk mencapainya. Dan saya yakin semua orang punya mimpi meskipun mimpi itu jaraknya hanya untuk esok hari. Bagi Seorang wanita seolah tidak punya pilihan lain untuk cita-citanya. Itu statement yang salah. Menurut saya, wanita itu adalah asset. Wanita adalah bibit unggul untuk membesarkan para pemimpi-pemimpi baru. Bagi generasi penerus. Menjadi ibu rumah tangga tentulah cita-cita yang mulia. Tapi lebih mulia lagi jika seorang Ibu rumah tangga mempunyai modal untuk mendidik anak bangsa itu. Modalnya bukan dari segi materi. Karena materi sebanyak apapun akan habis. Adalah ilmu, yang kekal dan abadi. Jika semua ibu rumah tangga cerdas dan mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, maka bayangkan penerus-penerus bangsa ini akan menjadi seperti apa. Dan itulah mimpi saya kelak, menjadi ibu rumah tangga yang baik, menyiapkan sarapan...

Malaikat Dikala Fajar

Dia sosok kakak bagiku. Layaknya kakak kandung, ia adalah anugerah dalam hidup. Ia memberikan kasihnya serta dengan tulus menyayangiku dan keluargaku. Semua dimulai dari tempat ini. Tempatku bekerja yang tidak jauh dari rumah. Tempat kerjaku yang sederhana namun penuh cinta. Sungguh ia adalah wanita yang luar biasa. Menjadi bara dalam menyalakan api semangatku. Bukan main. Aku melihat sosok yang selama ini ku kira hanya ada dalam kisah di televisi kini nampak dihadapanku. Menegurku. Menasihatiku. Ini bukan tentang parasnya yang cantik. Bukan pula tentang bentuk tubuhnya yang ideal. Bukan pula karna kekayaan hartanya. Ini adalah tentang kedewasaannya berfikir dan pemahamannya mengenai semangat hidup. Pemahamannya tentang arti perjuangan yang selama ini hanya mampu ku bayangkan. Hanya ada dalam anganku. Ia mampu menjadikannya sebuah benda yang tidak lagi tabu untukku. Untuk keluargaku. Sebuah benda benbentuk harapan yang seolah terasa nyata dan begitu dekat untuk aku raih. Ia mengaj...