Dia sosok kakak bagiku. Layaknya
kakak kandung, ia adalah anugerah dalam hidup. Ia memberikan kasihnya serta
dengan tulus menyayangiku dan keluargaku. Semua dimulai dari tempat ini.
Tempatku bekerja yang tidak jauh dari rumah. Tempat kerjaku yang sederhana
namun penuh cinta. Sungguh ia adalah wanita yang luar biasa. Menjadi bara dalam
menyalakan api semangatku. Bukan main. Aku melihat sosok yang selama ini ku
kira hanya ada dalam kisah di televisi kini nampak dihadapanku. Menegurku.
Menasihatiku.
Ini bukan tentang parasnya yang
cantik. Bukan pula tentang bentuk tubuhnya yang ideal. Bukan pula karna
kekayaan hartanya. Ini adalah tentang kedewasaannya berfikir dan pemahamannya
mengenai semangat hidup. Pemahamannya tentang arti perjuangan yang selama ini
hanya mampu ku bayangkan. Hanya ada dalam anganku. Ia mampu menjadikannya
sebuah benda yang tidak lagi tabu untukku. Untuk keluargaku. Sebuah benda
benbentuk harapan yang seolah terasa nyata dan begitu dekat untuk aku raih.
Ia mengajarkanku untuk belajar
dan terus belajar. Hingga aku mampu kuat dan bersabar. Ia mengajarkanku auntuk
tekun hingga aku ikhlas dalam ketekunanku. Hingga semuanya terasa seperti
makanan sehari-hari. Kebiasaan-kebiasaan baru, semangat baru. Ia benar-benar
Fajar yang begitu hangat memberikanku energi untuk bangkit. Bangkit dari
keterpurukan. Bahwa jangan karna laki-laki kita lantas menjatuhkan pengharapan.
Justru kita harus bangkit dan membuktikan padanya bahwa kita lebih baik
tanpanya. Sebuah sentilan kecil, tidak menyakitkan namun begitu membangunkanku
dari duduk tangis yang cukup lama. Bodohnya aku membuang waktu yang begitu
berharga untuk seseorang yang salah. Tapi aku bersyukur disadarkan oleh Tuhan
melalui malaikat pagi hariku. Malaikat dikala fajar. Terima kasih kakakku Fajar
tersayang J
Komentar
Posting Komentar