Langsung ke konten utama

Dewi Pembawa Kabar Baik

Saat aku terluka ia selalu ada, bahkan ia selalu menyediakan pundaknya untuk aku bersandar dan melepas kesedihan selama beberapa menit. Disaat itu dia diam. Dia membiarkanku berkecamuk dengan rasa sakitku. Ia hanya mengusap lembut kepalaku. Hingga beberapa saat aku makin menjadi-jadi. Aku terus bergulat dengan perasaanku. Rasa bersalah. Aku amat merasa bersalah. Aku begitu menyalahkan diriku sendiri. Kemana aku selama ini ? bahkan ketika dia selalu sigap disampingku untuk meringankan bebanku. Kemana aku selama ini saat dia sendirian dirundung kegalauan.

Kemana aku selama ini yang jarang ada disampingnya untuk sekedar membalasnya memberikan pundakku. Menggenggam erat jemarinya yang lemah ketika tak satupun orang mendengarkan pendapatnya. Dimana aku? Argh. Mungkin aku adalah orang yang tak tahu berterima kasih. Atau aku adalah orang yang tidak peka. Aku kembali menjadi sosok diriku yang dulu. Tidak peka. Kenapa ini terjadi. Kenapa aku harus melakukannya pada orang yang telah menyayangiku..?

Dear, sungguh kau adalah wanita yang baik dan tulus menyayangiku. Aku amat bersyukur mengenalmu ditempat itu. Tempat dimana kita tertawa bersama-sama dan salaing berjabat tangan. Kampus tercinta. Tempat dimana setiap harinya seolah seperti petualangan.  Dear, maafkan aku. Aku tidak selalu ada untukmu. Tapi jauh dilubuh hati, aku selalu mendoakanmu. Mendoakan yang terbaik untukmu. Jujur jika aku mendengar tentang kesedihanmu, aku amat marah. Aku amat benci pada orang-orang yang yang dengan teganya telah menyakitimu. Aku sedih karna aku tidak sanggup berbuat apa-apa untukmu.

Yang selalu ku rindukan dari sosokmu adalah sosok keras kepalamu. Sosok jahil dan manjamu. Tidak ada yang bertingkah sekanak-kanakan itu mungkin diusia sepertimu. Tapi kau amat dewasa ketika menyikapi masalah. Ketika memberi nasihat mengenai masalah orang lain. Keras kepalamu juga teramat menjengkelkan. Beberapa kali kita sempat beradu pendapat. Tidak ada yang mau mengalah, lantas saling melirik dan tertawa keras bersama-sama. Kita tidak akan membiarkan sedikit waktu yang kita miliki terbuang begitu saja karena perselisihan bukan? Ya, kita melupakannya begitu saja. Kemudian kembali berbicara seolah tidak pernah terjad perselisihan.

Aku pernah melihatmu marah. Bukan disaat aku tidak ada disampingmu ketika kau butuh. Tapi kau marah ketika aku tidak mendengarkan nasehatmu dan terus saja keras kepala dengan egoku. Hingga akhirnya aku tau, kau marah demi kebaikanku. Terima kasih dear. Persahabatan kita nyaris tanpa cela. Masalah yang ada justru menguatkan kita. Satu persatu mereka pergi, tapi tidak denganmu. Dulu ingatkah kamu, dear? Kita adalah 14 orang yang belum saling mengenal satu sama lain dan mencoba bersahabat. Orang pertama yang kukenal saat itu adalah kamu. Ingatkah kamu perjumpaan kita di lobby waktu itu dear. Kamu kalem dan tidak kusanggka semakin mengenalmu justru kamu sangat amat hyperactive. Hehe.. Selebihnya adalah kekompakan kita yang semakin menjadi. Dimana ada kamu, disitu ada aku. Jika kita tidak bersama satu sama lain, maka orang-orang sekeliling akan bertanya salah satu dari kita. Manis bukan persaudaraan kita? Melebihi ikatan darah.


Maka biarkanlah kini aku berusaha menjadi adik yang baik. Aku ingin mengulang selalu kisah kisah konyol kita. Kisah tertawa bersama dan menangis bersama. Ijinkan aku memelukmu dalam doa, dear. Karna itu yang mampu aku lakukan ketika pundak dan tangan ini tak mempu terus bersama disampingmu. Kamu adalah Dewi pembawa kabar baik dan pemberi senyum bagiku. Semoga persaudaraan kita kekal ya, dear.. J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Love You, Mom

Kasih sayang seorang ibu itu tiada dapat ditebus dengan apapun. Walaupun kita sudah membahagiakannya pun rasanya masih belum bisa membalas semua jasa-jasanya.. Kadang, khilaf selalu menyelimuti diri kita hingga terlontar kata kata yang harusnya tidak keluar.. Tapi ibu tetap bersabar dan tersenyum, maka tak salah jika menyebut kasih sayangnya sepanjang masa.. Itu benar adanya.. ketika kau sakit, lihatlah ia, ia juga sakit memikirkan kita, anaknya.. ia tak tidur untuk menjaga kita. ketika jatuh ia siap memberikan dekapan dan pelukannya untuk kita.. Ketika tersakiti, ia siap dengan pangkuan hangatnya dan membelai rambut kita.. Ia selalu menasihatimu, memberikan yang terbaik untukmu.. Bahagiakan Ibu kita, maka kita akan bahagia dengan Restunya. :)

Memaknai Wisuda

Wisuda. Jika kita membicarakan wisuda, pasti kata pertama yang ada di benak kita adalah "sarjana", "toga", "lulus", "kerja", atau "Nikah?" Hmm.. sebetulnya apa sih makna wisuda itu sendiri? Bebas? Bebas dari apa? Lulus? Lulus tes apa memangnya? Pendidikan saat ini dimaknai seolah ujian berat, bahkan ada yang memaknainya batu loncatan. Anggapannya jika tidak menempuh pendidikan maka karirnya akan segitu-gitu aja. Pendidikan tidak lagi dimaknai secara luhur sebagai kewajiban bagi setiap muslim . Kewajiban bagi setiap muslim yang artinya selama muslim tersebut hidup, maka wajib baginya menuntut ilmu. Tiada putus, tiada "lulus". Jadi sejatinya tiada kata wisuda bagi muslim sejati. Maka bagi yang sudah diwisuda dikampusnya masing-masing, jangan pernah berhenti menuntut ilmu, jangan lelah belajar. Sebab kekayaan Al-Qur'an tidak akan habis digali hingga akhir jaman.    Tulisan ini sebagai pengingat diri bahwa 'wisud...