Saat aku terluka ia selalu ada,
bahkan ia selalu menyediakan pundaknya untuk aku bersandar dan melepas
kesedihan selama beberapa menit. Disaat itu dia diam. Dia membiarkanku
berkecamuk dengan rasa sakitku. Ia hanya mengusap lembut kepalaku. Hingga
beberapa saat aku makin menjadi-jadi. Aku terus bergulat dengan perasaanku.
Rasa bersalah. Aku amat merasa bersalah. Aku begitu menyalahkan diriku sendiri.
Kemana aku selama ini ? bahkan ketika dia selalu sigap disampingku untuk
meringankan bebanku. Kemana aku selama ini saat dia sendirian dirundung
kegalauan.
Kemana aku selama ini yang jarang
ada disampingnya untuk sekedar membalasnya memberikan pundakku. Menggenggam
erat jemarinya yang lemah ketika tak satupun orang mendengarkan pendapatnya.
Dimana aku? Argh. Mungkin aku adalah orang yang tak tahu berterima kasih. Atau
aku adalah orang yang tidak peka. Aku kembali menjadi sosok diriku yang dulu.
Tidak peka. Kenapa ini terjadi. Kenapa aku harus melakukannya pada orang yang
telah menyayangiku..?
Dear, sungguh kau adalah wanita
yang baik dan tulus menyayangiku. Aku amat bersyukur mengenalmu ditempat itu.
Tempat dimana kita tertawa bersama-sama dan salaing berjabat tangan. Kampus
tercinta. Tempat dimana setiap harinya seolah seperti petualangan. Dear, maafkan aku. Aku tidak selalu ada
untukmu. Tapi jauh dilubuh hati, aku selalu mendoakanmu. Mendoakan yang terbaik
untukmu. Jujur jika aku mendengar tentang kesedihanmu, aku amat marah. Aku amat
benci pada orang-orang yang yang dengan teganya telah menyakitimu. Aku sedih
karna aku tidak sanggup berbuat apa-apa untukmu.
Yang selalu ku rindukan dari
sosokmu adalah sosok keras kepalamu. Sosok jahil dan manjamu. Tidak ada yang
bertingkah sekanak-kanakan itu mungkin diusia sepertimu. Tapi kau amat dewasa
ketika menyikapi masalah. Ketika memberi nasihat mengenai masalah orang lain.
Keras kepalamu juga teramat menjengkelkan. Beberapa kali kita sempat beradu
pendapat. Tidak ada yang mau mengalah, lantas saling melirik dan tertawa keras
bersama-sama. Kita tidak akan membiarkan sedikit waktu yang kita miliki
terbuang begitu saja karena perselisihan bukan? Ya, kita melupakannya begitu
saja. Kemudian kembali berbicara seolah tidak pernah terjad perselisihan.
Aku pernah melihatmu marah. Bukan
disaat aku tidak ada disampingmu ketika kau butuh. Tapi kau marah ketika aku
tidak mendengarkan nasehatmu dan terus saja keras kepala dengan egoku. Hingga
akhirnya aku tau, kau marah demi kebaikanku. Terima kasih dear. Persahabatan
kita nyaris tanpa cela. Masalah yang ada justru menguatkan kita. Satu persatu
mereka pergi, tapi tidak denganmu. Dulu ingatkah kamu, dear? Kita adalah 14
orang yang belum saling mengenal satu sama lain dan mencoba bersahabat. Orang
pertama yang kukenal saat itu adalah kamu. Ingatkah kamu perjumpaan kita di
lobby waktu itu dear. Kamu kalem dan tidak kusanggka semakin mengenalmu justru
kamu sangat amat hyperactive. Hehe..
Selebihnya adalah kekompakan kita yang semakin menjadi. Dimana ada kamu, disitu
ada aku. Jika kita tidak bersama satu sama lain, maka orang-orang sekeliling
akan bertanya salah satu dari kita. Manis bukan persaudaraan kita? Melebihi
ikatan darah.
Maka biarkanlah kini aku berusaha
menjadi adik yang baik. Aku ingin mengulang selalu kisah kisah konyol kita.
Kisah tertawa bersama dan menangis bersama. Ijinkan aku memelukmu dalam doa,
dear. Karna itu yang mampu aku lakukan ketika pundak dan tangan ini tak mempu
terus bersama disampingmu. Kamu adalah Dewi pembawa kabar baik dan pemberi
senyum bagiku. Semoga persaudaraan kita kekal ya, dear.. J
Komentar
Posting Komentar