Langsung ke konten utama

Penyampai Sbuah Pesan

Boleh kan, aku jadi penyampai pesan seseorang? Seseorang yang tidak pernah menganggap penilaian manusia itu hal yang penting. Seseorang yang bahkan tidak pernah menganggap penilaian orang yang disayanginya itu sesuatu yang perlu ditanggapi dan dibela.
Ya, anggap saja aku yang kini menulis adalah orang itu. Aku hanya mencoba menyampaikan isi hatinya. Menyampaikan rasa yang terpaksa meng-iya-kan sluruh tudingan yang ada padaku. Bukan hal yang tabu lagi kurasa jika seseorang yang dulunya begitu saling menyayangi, berubah menjadi begitu tak peduli. Itu bukan jenuh, bahkan sampai karena adanya orang ketiga. Tidak untuk hubungan yang bgitu manis ini. Tidak seperti yang kau bayangkan.

Justru aku tidak mengenal lagi sosokmu yang dulu, sosok yang berjuang, berprestasi, bersemangat, karna smangat itulah yang selalu menjadi penguat hubungan kita dulu. Komitmen kita, cita-cita yang dulu berkibar entah mengapa kini menjelma menjadi keputusasaan. Ya kamu yang ku kenal kini berubah menjadi sosok manusia yang hilang pengharapan. Sosok manusia yang bahkan kini terlalu mengagungkan aku dari pada yang lainnya. Dear, bukankan yang berlebihan itu tidak baik? Aku hanya ingin kita menjadi seperti dulu, masa-masa dimana kita masih sama-sama malu tuk bertatap, masa-masa dimana kita saling memotivasi untuk menjadi lebih baik.

Ya, masa-masa sekolah yang indah itu. Aku harap sgala pemikiran burukmu reda. Aku sungguh tidak berpikir seperti apa yang kau pikirkan. Sungguh aku hanya ingin menjadi lebih baik untuk keluargaku, mempertahankan dan memperjuangkan beasiswa ini. Sungguh hanya ituyang ada dalam otakku untuk saat ini. Keputusanku kemarin adalah agar kita sama-sama saling introspeksi diri, saling menemukan kembai celah keputusasaan itu dan menimbunnya dengan bibit semangat baru. Kuharap kita akan sama-sama memanennya. Disaat yang tepat. Kuharap keputusanku adalah yang terbaik untuk saat ini. Percayalah, semua ini tidak sperti yang kamu pikirkan. Percayalah.

Maaf, aku hanya ingin membela seseorang yang bahkan kelu dan tidak mempu berucap. Seseorang yang tulus memasrahkan segalanya kepada Tuhan. Aku menjadi jalan tengah di antara kalian berdua yang jiwanya masih labil. Masih diliputi keegoisan masing-masing. Tapi percayalah Jodoh dan rencana Allah adalah yang terbaik dan dihadirkan pada saat yang terbaik pula. Bagaimana mungkin kau ingin mendapatkan yang terbaik jika tidak diikuti dengan usaha keras? Perjuangkanlah. Berjuang karena Allah ! J


Atas nama S.M for M.R.R

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Love You, Mom

Kasih sayang seorang ibu itu tiada dapat ditebus dengan apapun. Walaupun kita sudah membahagiakannya pun rasanya masih belum bisa membalas semua jasa-jasanya.. Kadang, khilaf selalu menyelimuti diri kita hingga terlontar kata kata yang harusnya tidak keluar.. Tapi ibu tetap bersabar dan tersenyum, maka tak salah jika menyebut kasih sayangnya sepanjang masa.. Itu benar adanya.. ketika kau sakit, lihatlah ia, ia juga sakit memikirkan kita, anaknya.. ia tak tidur untuk menjaga kita. ketika jatuh ia siap memberikan dekapan dan pelukannya untuk kita.. Ketika tersakiti, ia siap dengan pangkuan hangatnya dan membelai rambut kita.. Ia selalu menasihatimu, memberikan yang terbaik untukmu.. Bahagiakan Ibu kita, maka kita akan bahagia dengan Restunya. :)

Memaknai Wisuda

Wisuda. Jika kita membicarakan wisuda, pasti kata pertama yang ada di benak kita adalah "sarjana", "toga", "lulus", "kerja", atau "Nikah?" Hmm.. sebetulnya apa sih makna wisuda itu sendiri? Bebas? Bebas dari apa? Lulus? Lulus tes apa memangnya? Pendidikan saat ini dimaknai seolah ujian berat, bahkan ada yang memaknainya batu loncatan. Anggapannya jika tidak menempuh pendidikan maka karirnya akan segitu-gitu aja. Pendidikan tidak lagi dimaknai secara luhur sebagai kewajiban bagi setiap muslim . Kewajiban bagi setiap muslim yang artinya selama muslim tersebut hidup, maka wajib baginya menuntut ilmu. Tiada putus, tiada "lulus". Jadi sejatinya tiada kata wisuda bagi muslim sejati. Maka bagi yang sudah diwisuda dikampusnya masing-masing, jangan pernah berhenti menuntut ilmu, jangan lelah belajar. Sebab kekayaan Al-Qur'an tidak akan habis digali hingga akhir jaman.    Tulisan ini sebagai pengingat diri bahwa 'wisud...