Siap mencintai,
harus siap pula untuk tersakiti. Kata-kata ini pasti sering kita dengar. Entah
di sinetron, film, ftv, novel ataupun dimanapun yang berhubungan dengan cinta.
Itu ibaratnya adalah sebuah konsekuensi. Karena mencintai dan menyakiti itu
sebenarnya amat dekat. Bersebelahan. Dan jika kau salah memposisikannya kau
akan berada dipihak yang dibilang ‘menyakiti’ itu tadi.
Lain lagi kisahnya,
dulu aku pernah mendengar seseorang mengatakan padaku “Berani mencintai namun
takut untuk dicintai”. Jujur aku tidak mengerti maksudnya. Aku bertanya pada
seseorang itu, apa maksud dari kata-kata itu. Bagaimana mungkin ada seseorang
yang takut untuk dicintai sementara dia sendiri berani mencintai?. Dia
menjelaskan padaku mengenai satu hal. Bahwa mencintai itu tidak selamanya
berbalas dicintai. Hal yang ia takutkan adalah dicintai ketika ia belum layak
untuk dicintai. Belum layak dan bahkan belum siap untuk sesuatu yang lebih jauh
lagi. Aku bertanya lagi layaknya gadis kecil yang minta diajari oleh ayahnya, “Lalu,
jika rasa cinta itu hadir dari Allah, apakah kamu akan menghindari atau
mengelaknya?” ia menawab dengan senyum. Biarkan aku mencintaimu dalam diam,
biarkan aku memelukmu dalam do’a. Hingga sama-sama kita siap dan tiada takut
untuk saling mencintai-dicintai. Aku paham smuanya. Aku sepakat dengan cara
itu. Labih baik mencintai dalam diam daripada berlarut-larut dalam
ketidakjelasan yang nantinya berakhir menyakitkan. Biarkan aku juga diam-diam
mencintaimu. Biarkan diam-diam Allah merencanakan sesuatu yang indah untukku.
Untukmu. Untuk smuanya.
Ada yang bilang
lagi padaku bahwa wanita itu munafik. Menyembunyikan perasaannya. Apa salahnya
berani mengatakan dan jujur?. Ya, mungkin aku salah satunya. Seorang pengecut
yang hanya mampu tuk memendam semuanya. Memendam dan mengubur rasa cintanya
disini. Dihati. Tidak ada yang tau, tidak ada yang mengerti. Apakah ini sbuah
kebodohan? Mencintai dalam diam? Bukankah itu satu hal yang tabu. Bullshit.
Bukankah jika kau ingin sesuatu menjadi milikmu, kau harus berani mengambil
tindakan?. Bukankah jika kau ingin memilikinya kau harus berani mengatakannya?
Itu bukan mencintai dalam diam. Itu gengsi namanya. Katanya padaku. Aku
mencerna dalam-dalam kata yang terucap olehnya. Tak bergeming.
Beranikah kau
menyaksikan perlahan-lahan ia termiliki oleh hat yang lain? Bukankah itu
menyakitkan? Pertanyaan itu selalu berkecamuk. Aku masih saja duduk terpojok
disudut ruangan itu. Dan masih mencintai dalam diam. Tersenyum dalam diam.
Bahkan terkadang menangis dalam diam.Tapi terima kasih buatmu yang sudah
membuatku kembali berbunga setelah panjangnya badai musim dingin dan musim
gugur yang menyegap. Kini aku kembali menemukan arti senyuman. Biarkan
pertanyaan-pertanyaan itu waktu yang menjawabnya. Sungguh, aku tidak dapat
mengusahakan perasaan itu. Aku hanya mampu berusaha memperbaiki diri ini dan
berpasrah pada waktu yang Tuhan janjikan.
Bukankan Allah itu
sutradara dan penulis skenario terbaik? Lalu apalagi yang harus dikhawatirkan.
Kita sebagai manuasia hanya menjalankan segala perintahnya dan berusaha sebaik
mungkin menjemput scene dan dialog yang indah itu. Insha Allah J
Komentar
Posting Komentar