Pendakian dimulai kurang lebih pukul 09:00 WIB. Gunung Api Purba Nglanggeran adalah gunung batu yang sudah tidak aktif lagi sejak puluhan tahun lalu. Dan obyek wisata ini akan menjadi salah satu Geopark Dunia. Dengan keasrian dan kealamian yang masih terjaga dengan baik, wajar saja sih menurut saya. Sekeliling kami saat itu adalah pohon dan jalan setapak yang bisa dilalui oleh dua orang beriringan. Tak terasa Gunung Api Nglanggeran yang dulu hanya bisa saya nikmati gambarnya berkat mbah google. Setapak demi setapak saya lalui dengan semangat yg membara di pos pertama kami beristirahat. Ada sebuah gazebo untuk berteduh. Berhubung kami kesiangan, kami sejenak meneduh di Pos 1. Yah sambil narsis dikit lah. =))
Ini sebelum mulai berjalan. Eksis dulu lah ya enaknya.. dari kiri ke kanan ada ka Amel, Mas Anto, saya, Mba Asih, Ka Aga dan Ka Adhan.
Perjalanan pun kami lanjutkan, dipandu oleh Mas Sembodo yang tiada lelah melayani sifat narsis kami, dengan sabar dia menjadi juru foto. Luas tanah yang kami pijak semakin sempit hingga kami harus berjalan sendiri sendiri. Bukan hanya itu, tanah yang kami pijak pun basah berkat hujan kemarin malam sehingga mempersulit perjalanan. Hingga akhirnya kami menemukan celah yang kami perbincangkan sejak dulu. Celah diantara batu dan bukit batu yang luasnya tidak lebih dari 50 cm. Dan see? Mas Anto dan Ka Amel yang tadi nya sempat kita ragukan akhirnya berhasil melampaui celah tersebut. Yang bikin ngeri adalah di ujung celah menanjak itu terdapat bongkahan batu sedang yang seolah terhimpit. Sehingga kita harus menunduk ketika berjalan dibawahnya. Subhanallah..
Ini kak aga yang sok kuat mencoba mengangkat batu :p Dan akhirnya cuma gegayaan :D
Selepas dari sana kita menjumpai pos 2, 3 dan 4. Jaraknya lumayan berjauhan satu sama lain. Dan disaat itu pula persediaan minuman kami menipis. Cuma tinggal satu kali tenggak untuk satu orang. Jadi kami semua merasakan seperti sedang di gurun pasir. Peluh yang keluar lebih banyak dibanding cairan yang masuk. Tiba di pos 5. Tepatnya dibawah pos 5. Ada tangga yang terbuat dari kayu untuk mendaki tebing yang kurang lebih tingginya 10 - 15 meter.. Sementara Mas Anto dan Ka Aga sudah terlebih dahulu naik ke atas, saya dan yang lainnya memutuskan untuk mempersiapkan mental dan mendokumentasikan terlebih dahulu. Sebenarnya sih yang mempersiapkan mental cuma ka Amel karnadia takut dengan ketinggian.
Ini nih celah yg unyu Itu.. ;)
Ini sebelum mulai berjalan. Eksis dulu lah ya enaknya.. dari kiri ke kanan ada ka Amel, Mas Anto, saya, Mba Asih, Ka Aga dan Ka Adhan.
Ini lho yang yang ada di kawasan gunung api purba.
Our journey was begin
Matahari mulai terik. Harusnya matahari terbitnya dipandangi sejak 4jam lalu. Hiks
Yeei.. ka amel, mas anto, saya, mba asih, ka aga dan ka adhan
Perjalanan pun kami lanjutkan, dipandu oleh Mas Sembodo yang tiada lelah melayani sifat narsis kami, dengan sabar dia menjadi juru foto. Luas tanah yang kami pijak semakin sempit hingga kami harus berjalan sendiri sendiri. Bukan hanya itu, tanah yang kami pijak pun basah berkat hujan kemarin malam sehingga mempersulit perjalanan. Hingga akhirnya kami menemukan celah yang kami perbincangkan sejak dulu. Celah diantara batu dan bukit batu yang luasnya tidak lebih dari 50 cm. Dan see? Mas Anto dan Ka Amel yang tadi nya sempat kita ragukan akhirnya berhasil melampaui celah tersebut. Yang bikin ngeri adalah di ujung celah menanjak itu terdapat bongkahan batu sedang yang seolah terhimpit. Sehingga kita harus menunduk ketika berjalan dibawahnya. Subhanallah..
Ini kak aga yang sok kuat mencoba mengangkat batu :p Dan akhirnya cuma gegayaan :D
nggak punya pacar tetep sayang lingkingan donk ;;)
Selepas dari sana kita menjumpai pos 2, 3 dan 4. Jaraknya lumayan berjauhan satu sama lain. Dan disaat itu pula persediaan minuman kami menipis. Cuma tinggal satu kali tenggak untuk satu orang. Jadi kami semua merasakan seperti sedang di gurun pasir. Peluh yang keluar lebih banyak dibanding cairan yang masuk. Tiba di pos 5. Tepatnya dibawah pos 5. Ada tangga yang terbuat dari kayu untuk mendaki tebing yang kurang lebih tingginya 10 - 15 meter.. Sementara Mas Anto dan Ka Aga sudah terlebih dahulu naik ke atas, saya dan yang lainnya memutuskan untuk mempersiapkan mental dan mendokumentasikan terlebih dahulu. Sebenarnya sih yang mempersiapkan mental cuma ka Amel karnadia takut dengan ketinggian.
Ini nih celah yg unyu Itu.. ;)
Komentar
Posting Komentar