Langsung ke konten utama

Semakin Besar Usaha, Semakin Besar Hasilnya

Manusia di beri akal. Oleh karna itu kita WAJIB untuk menuntut ilmu dan mempergunakan akal kita. Mengupayakan itu lebih baik dari pada hanya pasrah dan menerima apa yang akan terjadi. Setidaknya kita sudah menjalankan apa yang Tuhan anjurkan, yaitu ikhtiar. Jika hal yang kau upayakan tidak sesuai dengan apa yang kau harapkan, setidaknya kau sudah belajar dan mencoba yang terbaik. Kau tidak bisa menjanjikan sebuah harapan akan masa depan yang indah. Kepastian itu hanya milik Allah. Dan tentunya akan dianugerahkan disaat yang tepat.

Taukah kamu, bahwa proses menuju sampai ke tujuan itu adalah sesuatu yang indah dan patut untuk kita perjuangkan? Misalnya untuk mendaki ke sebuah gunung yang ketinggiannya 3000 mdpl diperlukan perjuangan yang tidak mudah. Karena apa? Tentu kita harus tau tujuan kita. Yaitu puncak yang mempesona. Mungkin kita tidak membayangkan akan seperti apa dipuncak sana. Akan seperti apa pemandangan yang kita saksikan. Tapi pasti kita sudah melihat dari sumber yang pernah menyaksikan atau mendengar dari cerita orang lain, dan petunjuk atau peta yang ada. Begitupun kehidupan. Kita tak tau akan seperti apa nantinya. Yang harus diupayakan adalah berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Berusaha untuk menjadi sosok apa yang kita inginkan kedepannya. Kalau kita ingin jadi pengusaha, maka dari sekarang belajarlah berbisnis, mengenal pangsa pasar. Jika kita ingin jadi penulis, perbanyak latihan, membaca dan menyimak perjalanan seorang penulis. Jika kita ingin jadi ibu rumah tangga, belajarlah dari seorang ibu. Belajarlah menghargai setiap detail pekerjaan rumah.

Jangan justru salah dalam pembelajaran. Misalnya kamu ingin jadi pelaut, tapi kamu malah belajar mencangkul. Jangan hanya memikirkan hasil tanpa ada proses. Jangan hanya memikirkan tujuan tanpa ada perjalanan. Hidup itu adalah berjalan. Baik itu cepat atau lambat, tak masalah yang penting kamu melangkah maju. Bukan diam atau bahkan berbalik mundur. Tujuan semua orang pastinya adalah surga. Surga dapat ditempuh jika kita menjalankan pilar-pilar agama dengan benar. Kemudian penyempurna kehidupan adalah dengan menikah. Menikah itu awal dari sebuah perjuangan menuju surga tadi. Maka menikah juga adalah sebuah jihad. Bagaimana kita akan melaksanakan perjuangan hidup, ibadah jika kita tidak memiliki ilmu dan bekal yang cukup? Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengupayakannya. Seseorang mungkin akan dengan mudah bilang "jalani saja" atau "lihat nanti" atau "dicoba aja dulu" berjuang kok coba-coba. Ini masalah serius lho .. ;)Nah makanya, bekal nikah tak hanya akad dan seperangkat alat sholat. Tapi planning dan ilmu untuk membina kehidupan setelahnya.

Planning disini adalah kedewasaan berfikir. Dua manusia yang berbeda latar belakang dan berbeda ideologi dipersatukan tidak hanya dalam satu atap, tapi juga satu lingkup yang Allah gariskan. Mungkin awalnya terasa kaku. *sotoy* menyatukan dua karakteristik yang berbeda. Tapi kan dari perbedaan itu bisa menjadi saling mengisi satu sama lain? Ya, betul. Tapi kita lihat dulu, harus ada salah satu pihak yang sabar dan bisa mengalah. Sabar.. sabar.. sabar.. seperti kayak buku yang saya baca, man shabara zhafira. Siapa yang bersabar pasti akan beruntung. Kunci mengejar ilmu adalah sabar, doa, ikhtiar, tawakkal.. semoga segala ilmu dapat disebarkan dan menjadi manfaat buat banyak orang. Semoga langkah menuju tujuan itu dipermudah, wahai Allah Yang Maha Mulia..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Love You, Mom

Kasih sayang seorang ibu itu tiada dapat ditebus dengan apapun. Walaupun kita sudah membahagiakannya pun rasanya masih belum bisa membalas semua jasa-jasanya.. Kadang, khilaf selalu menyelimuti diri kita hingga terlontar kata kata yang harusnya tidak keluar.. Tapi ibu tetap bersabar dan tersenyum, maka tak salah jika menyebut kasih sayangnya sepanjang masa.. Itu benar adanya.. ketika kau sakit, lihatlah ia, ia juga sakit memikirkan kita, anaknya.. ia tak tidur untuk menjaga kita. ketika jatuh ia siap memberikan dekapan dan pelukannya untuk kita.. Ketika tersakiti, ia siap dengan pangkuan hangatnya dan membelai rambut kita.. Ia selalu menasihatimu, memberikan yang terbaik untukmu.. Bahagiakan Ibu kita, maka kita akan bahagia dengan Restunya. :)

Memaknai Wisuda

Wisuda. Jika kita membicarakan wisuda, pasti kata pertama yang ada di benak kita adalah "sarjana", "toga", "lulus", "kerja", atau "Nikah?" Hmm.. sebetulnya apa sih makna wisuda itu sendiri? Bebas? Bebas dari apa? Lulus? Lulus tes apa memangnya? Pendidikan saat ini dimaknai seolah ujian berat, bahkan ada yang memaknainya batu loncatan. Anggapannya jika tidak menempuh pendidikan maka karirnya akan segitu-gitu aja. Pendidikan tidak lagi dimaknai secara luhur sebagai kewajiban bagi setiap muslim . Kewajiban bagi setiap muslim yang artinya selama muslim tersebut hidup, maka wajib baginya menuntut ilmu. Tiada putus, tiada "lulus". Jadi sejatinya tiada kata wisuda bagi muslim sejati. Maka bagi yang sudah diwisuda dikampusnya masing-masing, jangan pernah berhenti menuntut ilmu, jangan lelah belajar. Sebab kekayaan Al-Qur'an tidak akan habis digali hingga akhir jaman.    Tulisan ini sebagai pengingat diri bahwa 'wisud...